Secara prinsip, politik merupakan upaya untuk ikut berperan serta dalam mengurus dan mengendalikan urusan masyarakat. Karena menyangkut kepentingan rakyat banyak dan kepemimpinan atas masyarakat luas, maka politik amat sangat dekat dengan kekuasaan. Inilah mungkin yang membuat banyak orang memutuskan terjun ke kancah politik. Karena dengan terjun ke politik, orang akan semakin dekat dengan kekuasaan. Bisa jadi inilah yang dipahami oleh kebanyakan orang.

Di sisi lain, karena politik berusaha mengurus dan mengendalikan urusan masyarakat, politik juga dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran kepada masyarakat luas. Namun, pola ini seakan tertutupi oleh pandangan umum sebagaimana yang disebutkan di atas dan berusaha dibuang jauh-jauh dari masyarakat. Padahal, inilah sesungguhnya hakikat dari politik yang sesungguhnya, sarana untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran melalui orang-orang yang diserahi amanah untuk mengurus urusan masyarakat. Orang-orang yang bekerja dan diberi amanah untuk mengurusi urusan orang banyak yang dipilih melalui proses politik harus memahami hakikat ini. bahwa mereka dipilih untuk mengurusi urusan rakyat dan bekerja sebagai pelayan bagi rakyat.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Orang-orang yang melalui proses politik sekaligus diberi amanah untuk bekerja untuk rakyat malah menjadi orang pertama yang mengkhianati amanah itu, dengan mengedepankan kepentingan pribadi dan golongannya sendiri di atas kepentingan rakyat. Jadi, sebenarnya orang-orang yang bekerja dalam orbit politiklah, dan bukan politik itu sendiri, yang telah membuat stigma dan label bahwa politik selalu berorientasi pada kekuasaan. Orang-orang yang telah mengingkari amanah rakyatlah yang telah membuat politik, dan bekerja dalam orbit politik, itu sesuatu yang buruk dan amat lekat dengan korupsi.

Ketika ada sekelompok masyarakat berusaha memahami politik dengan benar, tidak banyak orang yang mempercayainya. Ketika ada sekelompok orang menggunakan politik untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran, orang menganggapnya sebagai sebuah kesia-siaan. Ketika ada sekelompok orang yang berusaha mengembalikan amanah rakyat dalam politik kepada yang berhak mengembannya dan untuk kepentingan rakyat, banyak orang yang memicingkan mata bahkan berpaling darinya.

Kita tidak berani mengakui bahwa memang ada sekelompok orang yang benar-benar memahami dan menjalankan politik dengan benar dan tetap mengikuti pandangan umum bahwa politik itu kotor.

Di sini saya ingin menyodorkan suatu analogi. Sudah menjadi pandangan umum bahwa setiap laki-laki hanya memandang wanita sebagai objek seks belaka. Ini merupakan pandangan umum yang walaupun belum tentu diakui tetapi pada kenyataannya dipakai sebagai pandangan umum. Tentu tidak ada orang yang berani dan secara terang-terangan mengakui hal ini. namun pada kenyataannya pandangan ini banyak dianut oleh banyak orang.

Di lain pihak, ada sebagian kalangan dari pria yang mengingkari pandangan umum ini. menurut kelompok pria ini wanita tidak hanya sebagai objek seks belaka bahkan lebih mulia dan lebih tinggi dari ini. kalangan pria ini lebih memuliakan dan lebih menghargai wanita sebagai makhluk tuhan yang memiliki fitrah. Tentu sulit membuktikan bahwa ada segolongan pria yang menganggap wanita seperti ini, tetapi kita tahu pasti bahwa ada pria yang berpegang teguh dalam pandangan ini.

Demikian halnya dengan pandangan bahwa politik yang dipandang secara umum hanya sebagai jalan untuk mencapai kekuasaan. Pandangan ini sudah menjadi pandangan umum yang ada dalam benak banyak orang, walaupun tidak ada seorang pun yang akan mengakui hal ini. tetapi kita tahu pasti kebanyakan orang berpandangan seperti ini. ketika seorang tokoh partai ditanyakan tentang pandangannya untuk terjun ke dalam dunia politik, saya berani menjamin tidak akan keluar dari mulutnya pernyataan bahwa dia menginginkan kekuasaan. Selalu yang keluar dari mulutnya bahwa dia ingin bekerja untuk rakyat.

Namun, apakah kenyataannya demikian?

Sesuai dengan analogi tadi, ketika ada sekelompok orang yang berusaha memahami politik dengan benar, berusaha mengembalikan amanah rakyat kepada yang berhak menerima, dan bekerja untuk melayani rakyat, kita perlu memahaminya sebagai segolongan pria yang menganggap wanita lebih mulia dan lebih berharga dari sekedar objek seks belaka. Kita mungkin sulit membuktikan golongan ini benar-benar ada tetapi kita tahu mereka benar dan yakin dengan pendiriannya dan golongan ini ada.

Jadi, ketika kita mengakui ada segolongan pria yang memiliki prinsip lebih menghargai wanita sebagai makhluk yang memiliki fitrah walaupun tidak bisa dibuktikan, kita tentu juga mau tidak mau harus mengakui bahwa ada sekelompok orang yang memang sungguh-sungguh berusaha memahami politik dengan benar sesuai dengan hakikatnya.

Orang-orang yang berusaha memahami politik dengan benar ini tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir, tetapi justru dengan kekuasaan itulah mereka baru memulai sebuah usaha yang lebih tinggi dan lebih mulia, menjadi pelayan bagi rakyat dan bekerja untuk kepentingan rakyat.

Dan, yakinlah bahwa golongan ini ada dan jika anda meyakininya jangan ragu-ragu untuk memilih mereka.

Tulisan ini juga diposting di kompasiana

http://public.kompasiana.com/2009/05/28/politik-dan-kekuasaan/

Sebagai seorang pengajar tidak tetap (yang tidak memiliki jadwal, tempat, waktu, dan juga gaji yang tetap), saya harus siap mengajar di lokasi manapun yang ditentukan oleh lembaga tempat saya mengajar. Ketika lembaga tempat saya mengajar menugaskan saya untuk mengajar di kota Serang, saya pun menyanggupinya. Lembaga kami yang bergerak di bidang pendidikan yang berbasis di Jakarta memang memiliki cabang di Serang, kota di sebelah barat kota Jakarta yang menempuh waktu 4 jam perjalanan dengan bus.

Saya yang biasanya mengajar di wilayah Jakarta, kali ini kebagian jatah mengajar di Serang. Selama satu semester, saya pun harus rela pulang pergi Jakarta – Serang satu kali dalam seminggu. Karena menempuh jarak yang jauh di luar kota, saya mendapat jatah uang transport setiap kali datang mengajar ke Serang.

Pada hari itu, kebetulan giliran saya mendapat jadwal mengajar di Serang. Tiga kelas masing-masing 1,5 jam pelajaran telah saya selesaikan. Dan, saatnya untuk pulang. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam saat saya melangkahkan kaki meninggalkan tempat saya mengajar. Sebelumnya, seperti biasa saya diberikan uang transport secara cash oleh penanggung jawab lokasi tempat saya mengajar.

Selembar uang 20 ribuan lama pun saya simpan di dompet saya. Saya tidak terlalu memperhatikan atau peduli apakah uang ini lama atau baru. Seharusnya uang lama pun masih bisa digunakan untuk pembayaran, begitu pikir saya.

Hari itu saya juga tidak membawa uang lebih di dompet saya karena saya sudah memperhitungkan ongkos saya secukupnya plus uang transport 20 ribu tersebut cukup untuk sampai ke rumah.

Saya mengeluarkan uang receh untuk membayar angkot sampai ke tempat pemberhentian bus jurusan ke Jakarta. Di sini saya harus menunggu bus jurusan Jakarta yang akan saya naiki. Tidak berapa lama menunggu, bus jurusan Jakarta (seingat saya namanya Sri Maju jurusan Merak-Jakarta lewat Serang) datang dan saya pun naik.

Bus sedang melaju dengan cepat di jalan tol Jakarta-Merak arah ke Jakarta, saat kondektur mulai berjalan menarik ongkos dari penumpang. Tibalah kondektur itu di hadapan saya sambil menagih ongkos bus. Selembar uang 20 ribu lama yang saya dapatkan dari tempat saya mengajar itu pun saya berikan karena memang hanya uang ini yang ada selain uang recehan lain yang ngga cukup untuk membayar ongkos bus.

Tapi, betapa terkejutnya saya, ketika kondektur itu menolak menerima uang 20 ribu tersebut. Dia beralasan uang tersebut sudah lama dan sudah tidak berlaku lagi sambil tetap menagih ongkos bus. Saya berusaha meyakinkan uang ini sah namun tampaknya sang kondektur tetap tidak mau menerima. Akhirnya, dia pun bilang nanti saya akan diturunkan di pemberhentian bus kalo tetap membayar dengan uang lama ini. saya ngga bisa berbuat apa-apa karena memang ngga punya uang lain yang cukup untuk membayar ongkos selain uang 20 ribu ini.

Benar juga, saya disuruh turun oleh kondektur saat bus tiba di tempat pemberhentian sekaligus pom bensin yang masih berada di jalan tol Jakarta-Merak. Saya pun turun dengan berat hati dan sambil menyesalkan dan menyalahkan diri sendiri kenapa tadi cuma membawa uang yang pas-pasan.

Saya pun mulai khawatir, berada di jalan tol di malam hari dengan uang lama yang ngga laku dan pas-pasan. Pikiran buruk pun datang, bagaimana kalo saya ngga bisa keluar dari jalan tol ini, bagaimana kalo ada orang jahat menyerang saya di tempat sepi ini, bagaimana kalo uang 20 ribu ini benar-benar ngga laku dan ngga bisa dipakai untuk pembayaran dan saya ngga bisa pulang.

Saya mulai mencari toko atau warung tempat saya bisa menukarkan atau membeli sesuatu dan mendapat kembalian berupa uang recehan. Saya lihat di tempat itu tidak terlalu sepi (untungnya, thanks God!), ada pom bensin dan beberapa warung makanan. Tapi, saya agak ragu apakah mereka mau menerima pembayaran dengan uang 20 ribu lama ini.

Saya pun masuk ke warung makanan dan membeli sebuah minuman botol seraya menyerahkan uang 20 ribuan tadi dan berharap mereka mau menerima uang ini dan memberi uang kembalian. Yeah, penjaga warung menerima uang itu tanpa banyak bicara (alhamdulillah, gue bisa pulang) namun masih harus menukar uang ini untuk kembalian. Perlahan hati saya mulai agak tenang.

Saya lihat bus yang tadi saya naiki sudah selesai mengisi bensin dan perlahan-lahan mulai bergerak jalan melanjutkan perjalanannya ke Jakarta. Saya tidak terlalu khawatir dan masih menunggu penjaga warung memberikan kembalian. Dalam hati, saya berharap masih ada bus lain yang singgah ke tempat ini sehingga saya bisa naik dan pergi dari tempat ini.

Setelah mendapat uang kembalian berupa uang recehan, saya beranjak dari warung tersebut sambil tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada penjaga warung.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya bus yang ditunggu itu, yang akan membawa saya meninggalkan tempat ini, datang juga. Dan, saya pun naik bus itu dengan rasa syukur karena telah terlepas dari kesulitan ini sambil bertekad tidak akan membawa uang pas-pasan lagi saat bepergian jauh.

Seperti biasa, malam itu saya sedang duduk dengan nyaman di atas sebuah bus ukuran ¾ jurusan Depok Timur. Kali ini saya cukup beruntung karena mendapat bus yang masih baru dan lumayan bagus dan nyaman dengan ruang antartempat duduk yang lega, biasanya bus-bus jurusan depok timur-kp rambutan diisi oleh jajaran bus tua berbentuk kotak sabun yang kurang layak ditumpangi.

Saya naik bus ini di daerah Pasar Rebo di saat bus masih kosong belum terisi banyak orang. Bus ini biasanya akan ngetem di halte dekat fly over Pasar Rebo ke arah Cijantung dan baru akan jalan setelah bus terisi penuh penumpang.

Saya sengaja memilih tempat duduk di deretan kanan baris ketiga di pojok dekat jendela dan duduk dengan nyaman di sana. Karena masih kosong, saya punya banyak pilihan dan kebetulan posisi ini adalah favorit saya, di pojok dekat jendela. Posisi ini favorit karena saya bisa “bebas dari gangguan” yang sewaktu-waktu bisa saja datang (Saya berharap tidak ada ibu-ibu membawa anak, nenek-nenek, atau wanita hamil yang akan naik).

“Depok Timur, Cisalak, Simpangan” terdengar teriakan calo di halte.

Satu per satu penumpang naik mengisi tempat duduk yang masih kosong. Seorang bapak-bapak duduk di sebelah saya, dan langsung menutup jendela yang sebelumnya memang sengaja saya buka lebar-lebar. Jendela ini memang sengaja saya buka lebar biar udara segar di luar yang habis tersiram hujan bisa masuk, AC alam gitu loh. Dalam hati saya bergumam, “ngga sopan nih orang ngga boleh orang senang ya.” Tapi, saya diam aja sambil berpikir positif, mungkin saja orang ini sedang kurang enak badan.

“Depok Timur, kosong kosong langsung berangkat yang mau cepat,” terdengar lagi teriakan sang calo tanpa melihat bahwa bus sudah terisi penuh tanpa ada bangku kosong.

Bus pun melaju setelah terisi penuh penumpang. Saya pun menyandarkan kepala dengan nyaman dan mencoba memejamkan mata. Mumpung busnya nyaman, saya mencoba menikmati perjalanan ini dengan sejenak memejamkan mata melepas lelah.

Mata saya sedang setengah terpejam saat secara samar-samar saya melihat seorang ibu sambil menggendong anak naik ke atas bus yang sedang saya tumpangi. Wah, akhirnya kekhawatiran gue terjadi juga. Apakah saya akan meninggalkan kenyamanan ini dan memberikan tempat duduk saya kepada ibu yang baru naik ini? dalam hati saya bimbang.

Meskipun ibu ini terlihat cukup kuat dan tabah, saya merasa kasihan juga. Saya mencoba membela diri, saya juga membawa tas yang cukup berat, jadi saya berhak dengan tempat duduk ini. saya menunggu reaksi penumpang lain, siapa tahu ada yang berbaik hati memberikan tempat duduknya yang nyaman kepada ibu yang sedang menggendong anak ini. tapi, saya hanya bisa berharap.

Saya melihat penumpang yang duduk, kebanyakan mereka duduk dengan mata terpejam (atau sengaja memejamkan mata walaupun sebenarnya ngga ngantuk).

Saya benar-benar ngga tega. Akhirnya, saya pun berdiri sambil mencolek pundak ibu itu seraya memberikan tempat duduk yang sebelumnya saya duduki tanpa melihat ke belakang. Tapi, tanpa diduga dari belakang saya datang ibu yang lain langsung menyerobot duduk di tempat yang akan saya berikan kepada ibu yang menggendong anak tadi.

Saya benar-benar ngga menduga kejadian ini. ibu yang menggendong anak pun terlihat terkejut tapi ngga bisa berbuat apa-apa. Ibu itu tetap berdiri dengan tegar sambil menggendong anaknya yang mulai terlelap pulas. Sejenak saya bingung, ngga bisa berpikir. Saya juga melihat penumpang lain, sama sekali ngga ada perhatian. Seolah-olah ngga terjadi apa-apa.

Entah apa yang ada di kepala ibu yang menyerobot duduk ataupun ibu yang menggendong anak. Ibu yang menggendong anak tampaknya sebel tapi ngga bisa berbuat apa-apa. Ibu yang menyerobot duduk tenang-tenang saja di tempat duduknya tanpa merasa bersalah.

Penumpang yang lain pun tampak ngga peduli, tetap di bangkunya yang nyaman. Aneh, apa mereka ngga malu dengan dirinya sendiri membiarkan seorang ibu berdiri dengan menggendong anak? Apa mereka ngga berpikir, bagaimana kalo yang berdiri itu istrinya sendiri, ibunya yang sewaktu muda menggendong dirinya saat masih kecil, atau dirinya sendiri menggendong anaknya?

No body care about her …

Saya masih bingung dengan keadaan ini. udah tujuan saya memberi tempat duduk kepada ibu itu ngga tercapai, sekarang saya pun harus susah payah berdiri dengan memikul tas ransel saya yang lumayan berat.

Cukup lama saya berada dalam kebingungan dengan pikiran yang agak kacau, sampai akhirnya saya memberanikan diri berbicara kepada ibu yang menyerobot itu yang masih duduk dengan tenang.

“Maaf bu, tadi maksud saya mau memberikan tempat duduk ini untuk ibu itu,” ujar saya dengan hati-hati sambil menunjuk kepada ibu yang berdiri menggendong anak.

“oh begitu,” jawab ibu yang duduk itu seraya berdiri dan mulai menyadari maksud saya tadi. Saya pun kembali menawarkan tempat duduk ini yang sudah kosong kepada ibu yang menggendong anak tadi.

“maaf, Mas. Ngga apa-apa saya berdiri aja,” ujarnya dengan tegas cenderung ketus tanpa menengok dengan nada datar yang dicoba untuk tegar dan sabar yang terasa bagai cubitan pada kulit saya.

Tampaknya memang terlambat buat saya untuk membuatnya menerima kebaikan hati saya. Tampaknya dia sudah menetapkan, saya bisa kok berdiri tanpa perlu bantuan tempat duduk dari anda. Hatinya sudah bulat untuk tetap berdiri dan tegar tanpa perlu bantuan dari kami yang sombong ini. sikap tegasnya ini saya pikir bukan ditujukan kepada saya semata melainkan untuk sikap cuek dan ngga peduli semua penumpang bus ini dan terlebih kepada ibu yang telah menyerobot tempat duduk tadi.

Perasaan saya ngga menentu, ada rasa iba, jengkel, kesel, dan perasaan bersalah bercampur menjadi satu.

Saya mencoba memahami keadaan ini. penumpang bus yang nyaman dengan tempat duduknya tanpa peduli dengan orang lain sampai-sampai membiarkan seorang ibu yang menggendong anak berdiri dengan susah payah. Seorang ibu yang lain yang tanpa merasa bersalah menyerobot tempat duduk yang bukan untuknya. Seorang ibu yang mencoba tegar dan tidak bergantung kepada kebaikan orang lain. Saya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Sebuah pelajaran berharga yang saya dapat malam itu.